Malanuza — Sabtu, 29 Agustus 2026, lapangan terbuka di bawah bentangan tenda darurat beratapkan terpal sederhana mendadak berubah menjadi ruang sidang senat terbuka yang paling sakral dan emosional dalam sejarah Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP Citra Bakti) Ngada.
Alih-alih merayakan kelulusan di dalam gedung atau aula megah yang ber-AC, sebanyak 231 peserta yudisium Tahun Akademik 2025/2026 harus dikukuhkan di tengah lapangan akibat guncangan gempa bumi yang beberapa waktu lalu melanda daratan Flores

Meski berdiri di atas tanah lapang dengan fasilitas yang sangat terbatas pascabencana, prosesi yudisium pada hari itu sama sekali tidak kehilangan marwah, kekhidmatan, dan kesakralannya. Tenda darurat tersebut justru menjelma menjadi monumen hidup yang merekam keteguhan mental para calon pendidik bangsa di bumi Ngada, Nusa Tenggara Timur
Ujian Ganda di Bawah Tenda Darurat
Dalam pidato sambutannya Ketua STKIP Citra Bakti, Konstantinus Dua Dhiu, SH., M.Pd, menegaskan bahwa para lulusan tahun ini merupakan generasi istimewa yang berhasil menaklukkan “ujian ganda” menyelesaikan tuntutan akademik yang ketat sekaligus bertahan di tengah ujian psikologis akibat bencana alam.
“Jika mahasiswa di tempat lain merayakan kelulusan mereka dengan kemewahan di dalam gedung megah, kalian merayakannya dengan ketangguhan di bawah tenda darurat ini. Gempa bumi yang meretakkan dinding-dinding ruang kelas kita tidak pernah sedikitpun berhasil meretakkan semangat kita sekalian,” ungkap Konstantinus Dua di hadapan para peserta yudisium, dosen, serta tenaga kependidikan.
Ucapan terima kasih juga dialamatkan kepada para dosen dan tenaga kependidikan yang tetap mendedikasikan diri memberikan pelayanan prima kendati harus berproses di bawah tenda darurat dalam situasi darurat.

Dalam momen pelepasan tersebut, pihak pimpinan juga menyampaikan permohonan maaf atas segala keterbatasan fasilitas maupun ketegasan dosen selama proses bimbingan. Di ujung sambutannya, diiringi tepuk tangan riuh yang bergemuruh di bawah tenda, beliau secara resmi mengetuk palu pengukuhan: “Kalian semua resmi DI-YUDISIUM dan LULUS!”
Komitmen Yapentri: Membangun Kembali Semangat dari Puing-Puing Keterbatasan
Hadir pula dalam prosesi penuh makna di bawah tenda darurat tersebut, Ketua Yayasan Pendidikan Citra Masyarakat Mandiri (Yapentri) Ngada, Wilfridus Muga, S.E., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa bangga dan hormat yang luar biasa kepada seluruh civitas akademika yang menolak menyerah pada keadaan.
“Yapentri sebagai badan penyelenggara merasa sangat terharu. Peristiwa gempa bumi memang menguji fondasi fisik bangunan kampus kita, tetapi kejadian ini sekaligus membuktikan bahwa fondasi mental, moral, dan ketangguhan institusi kita jauh lebih kokoh dari beton. Kami berkomitmen penuh untuk segera memulihkan infrastruktur agar proses pendidikan di STKIP Citra Bakti terus berjalan tanpa henti demi mencetak guru-guru berkualitas,” tegas Wilfridus Muga
Ia menambahkan, pengalaman merasakan langsung dampak bencana di lapangan pada Sabtu akhir Agustus tersebut harus membentuk para lulusan menjadi pribadi yang memiliki kepekaan sosial tinggi, tangguh, dan siap menjadi pembawa solusi di tengah masyarakat manapun mereka ditempatkan kelak.
Dari bawah tenda darurat di tanah Flores yang dicintai ini, STKIP Citra Bakti telah mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa ilmu pengetahuan, mimpi, dan cita-cita luhur seorang pendidik tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh guncangan gempa bumi sekecil apa pun. Selamat kepada 231 lulusan baru yang siap melangkah menerjang “gempa-gempa” kehidupan di luar sana.